Istri
ISTRI itu adalah sosok pendamping suami yang takkan pernah cukup untuk diucapkan dengan ribuan kata terima kasih, karena sebenarnya separuh kehidupan itu ada dipangkuan istri. Wanita yang dinikahi oleh pria untuk mengalahkan segala keegoan yang dimiliki pria, memberikan rasa hormat dan kasih kepada sang pria, mungkinkah istri itu adalah “pembantu atas nama cinta?”.
Pembantu atas nama cinta bukan berarti merendahkan seorang istri, tapi lihat saja di tengah hiruk pikuk kehidupan ini para istri juga berjuang untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Mereka juga berusaha untuk menjadi penopang hidup keluarga, selain itu mereka juga memenuhi kewajiban mereka sebagai istri, melayani anak-anak dan suami dengan segudang kesibukan sebagai ibu rumah tangga, di lain waktu mereka juga bekerja layaknya kepala rumah tangga untuk menambah nafkah keluarga, betapa berat menjalani keduanya. Belum lagi menghadapi polah tingkah sang suami yang mungkin saja tidak bisa untuk menjadi seorang suami yang baik dan bersyariat, mengutamakan keeegoisan sebagai suami yang menurutnya mempunyai hak-hak lebih dari istri, entah itu sekedar dalam pekerjaan rumah tangga ataupun hal lainnya seperti hak untuk berpoligami yang mungkin menjadi senjata andalan untuk menjamah ratusan mangsa baru dengan berjuta alasan tak pasti.
Istri adalah wanita yang mempunyai tingkat kesabaran luar biasa tinggi, penuh kasih sayang dalam membesarkan buah hati serta tabah menjalani kehidupan ini. Istri adalah sosok perempuan yang benar-benar mengerti seperti apa wanita itu, penuh kesabaran, ketabahan dan keimanan.
Menjadi isteri yang solehah memang rada susah apalagi tuntutan di zaman sekarang ini, banyak wanita yang tak mampu mengendalikan diri untuk menjadi seorang istri layaknya zaman nabi, tidak dipungkiri suami memang mempunyai hak lebih dari istri, tetapi mengapa banyak wanita pada zaman sekarang menuntut kesamaan hak tersebut? Jawabnya gampang saja, karena suami zaman sekarang lebih banyak menyakiti dari pada menjalankan kewajibannya sebagai suami. Oleh karena itu, tidak akan ada salahnya apabila istri pada zaman sekarang menuntut hak yang sama dengan suami.
Kepatuhan sang isteri dianggap sebuah kelemahan bagi suami sehingga terkadang mereka memperlakukan seorang istri tidak sewajarnya, menyia-nyiakan ketulusan seorang istri dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus penopang keluarga.
Beruntunglah apabila seorang suami mau mengerti dengan mengurangi beban sang istri dan berkelakuan yang mengenakan, saling menyayangi, mencintai dan dengan tulus berbagi tugas. Saling membenahi setiap ada masalah, saling percaya dan menjaga, kalau begini istri mana yang tidak akan merasakan kebahagiaan luar biasa yang tidak mungkin bisa dinilai dengan materi. Kasih sayang suami yang tulus adalah kunci untuk mendidik istri menjadi seorang yang solehah.
Maka demikian kasihilah, cintailah dan lindungilah seorang wanita yang kau nikahi dengan ketulusan, bukan dijadikan budak untuk melampiaskan segala keegoan yang kaum adam miliki, bukan pula menjadi budak nafsu ketika lelah kau berjalan memetik bunga-bunga indah lainnya, bukan pula kau jadikan budak untuk melayani segala kepenatan ketika kau jenuh dengan apa yang kau cari. Mari kembali lagi dari awal, bukankah kau menjadikannya istri atas dasar cinta? Tetapi mengapa terkadang seiring waktu.kau malah memupuskan cinta itu, memang benar kata pepatah.”Yang haram itu lebih nikmat dari yang halal”, yang kemungkinan besar bisa diartikan, ketika sebelum berstatus suami istri segalanya menjadi nikmat dan bagus, tetapi ketika udah resmi, semuanya menjadi jenuh dan membosankan, begitukah yang terjadi pada banyak pernikahan di zaman sekarang ini? Tetapi satu hal istri adalah tempatmu untuk kembali mencari jati diri.

